Jago Lagu
[CLOSE]

Review Buku “(Habitus x Modal) + Ranah = Praktik”

Review Buku “(Habitus x Modal) + Ranah = Praktik”

Review Buku “(Habitus x Modal) + Ranah = Praktik” (Google Images)

Sekilas judul buku ini memang seperti rumus matematika, karena ada penjumlahan perkalian dan sama dengan. Tapi ketika dibaca, kita akan menyadari bahwa kesimpulan pemikiran Pierre Bourdieu secara garis besar adalah judul buku ini. Yaitu tentang habitus, modal, dan ranah. Jadi praktik dalam dunia sosial adalah penjumlahan dari habitus, modal, dan ranah. 

Pieree felix bourdieou merupakan salah seorang pemikir prancis yang terkemuka di ahir abad ke 20, ia dikenal sebagai sosiolog, antropolog, juga filsuf. Pada masa ahir hidupnya, ia dikenal sebagai jawara dalam gerakan anti-globalisasi. 

Karyanya memiliki cakupan bahasan yang luas, mulai dari etnografi, seni, sastra, pendidikan, bahasa, kultural, bahkan sampai pertelevisian. Buku ini cukup menarik untuk dibaca. Di buku dijelaskan ternyata untuk melakukan hegemoni sosial, yang diperlukan bukan modal ekonomi, tapi modal simbolik yaitu jabatan, julukan, atau posisi strategis dalam masyarakat. Jadi di dalam sosial yang terkuat bukan kaum kapitalis, tapi yang terkuat adalah kaum simbolis. 

Buku pengantar ini merupakan hasil kerja kolektif tujuh orang akademisi anggota Friday Morning Group, sebuah kelompok studi di Universitas Massey yang rutin mendiskusikan karya-karya boudieu. Buku ini disusun untuk membantu pembaca memahami pemikiran bordo, bukan melalui sebuah proses penyederhanaan atau penyajian, melainkan melalui penjelajahan atas kompleksitas berbagai ide dan metode kerjanya di berbagai lintas bidang kajian. Buku ini merupakan pengantar kepada pemikiran peir bordo yang cukup sering dikutip dan dirujuk. 


1. Habitus 

Pengertian sederhana dari habitus adalah kebiasaan yang digunakan individu dalam berurusan dengan realita sosialnya. Ketika berada di lingkungan sosial, secara otomatis individu akan cenderung berada dalam satu lingkup kelas sosial yang sama. Orang kaya akan bersosial dengan orang kaya, begitu juga sebaliknya. Mereka melakukan hal tersebut secara tidak sadar karena kebiasaan yang mereka lakukan memiliki kesamaan, jadi bisa saling berinteraksi satu sama lain. 

2. Modal

Modal digolongkan menjadi empat jenis. Pertama modal ekonomi, yaitu berupa kekayaan yang bisa digunakan untuk menunjang aspek ekonomi. Kedua modal kultural, yang bisa diartikan sebagai intelektualitas atau skill. Jadi ketika seseorang tidak memiliki uang, namun memiliki kecerdasan, maka modal ini akan menciptakan pekerjaan. Dan dari sana modal ekonomi akan datang dengan sendirinya. Ketiga, modal sosial, yaitu relasi sosial dengan orang-orang yang memiliki modal lebih besar. Misalnya Presiden atau DPR. Kedekatan tersebut akan memudahkan untuk mendapatkan pekerjaan atau jabatan. Keempat, modal simbolik, ini adalah modal yang paling besar nilainya karena berupa otoritas, jabatan, julukan dan sebagainya. 

3. Ranah 

Ranah (wilayah) adalah semacam hubungan yang terstruktur dan tanpa disadari mengatur posisi-posisi individu dan kelompok dalam tatanan masyarakat yang terbentuk secara spontan. Misalnya seorang yang memiliki modal simbolik, katakanlah kyai. Maka pengaruh kiyai ini akan sangat dominan ketika di ranah (wilayah) agama seperti pesantren atau masjid. Namun ketika kyai ada di ranah pecinta olahraga atau masyarakat atheis, maka dominasi kyai tidak sekuat ketika dalam ranah pesantren tadi. 

4. Kekerasan Simbolik 

Kekerasan simbolik ini bisa terjadi Jika seseorang yang memiliki modal besar (modal simbolik) kemudian menggunakannya dengan tidak semestinya. Contoh: kasus mahasiswa berprestasi alumni UII yang diduga melakukan pelecehan seksual dengan korban yang cukup banyak. Pria yang berinisial IM ini ditampilkan sebagai figure yang sempurna, mahasiswa berprestasi, peraih beasiswa australi, ustadz, intelektual muda, lulusan pesantren, hafidz, dll. 

Intinya tanpa terlihat cacat. Sehingga tidak ada yang menduga kalau IM akan melakukan pelecehan seksual. Kekurangan buku ini menurut saya pribadi adalah bahasa yang digunakan cukup berat, apalagi bagi saya yang baru pertama kali membaca buku dengan genre seperti ini. Saya beberapa kali menemukan banyak istilah-istilah atau kosa kata baru yang sebelumnya tidak saya pahami. Sehingga membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk menuntaskan buku ini. Meski demikian buku cukup bagus sebagai bahan diskusi dan sudut pandang terhadap situasi sosial yang sedang kita hadapi.

Total dibaca: 293x | Berikan Komentar!


Afiqul Adib
Penulis : Afiqul Adib
Mahasiswa UIN Jogja

Menulis untuk merayakan eksistensi

Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Ingatlah untuk selalu berkomentar dengan sopan sesuai pedoman situs ini
Komentar ()
memuat topik...
TOPIK HANGAT
Video Populer

Nulis Di HarusTahu? Gratis!

Kamu hobby menulis? Ingin tulisan kamu dilihat banyak orang dan dapat disebarkan dengan cepat? Mendaftar sekarang dan buat tulisan terbaikmu di sini! Gratis Selamanya!


Jasa Pembuatan Aplikasi Website Custom!

Pesan Sekarang!